SIRIUS (PART 2)
Chindai menghela
napas lelah, ini hari pertama masuk sekolah setelah 3 hari menjadi kakak gugus
sewaktu MOS. Chindai menatap beberapa kertas yang ada di tangannya, ini berisi
nama murid-murid kelas 10 yang mendaftar sewaktu demo hari kedua. Ia menyipit
menyadari satu nama yang tidak asing Fychelsea Kejora Palmetha. Chindai mulai
berpikir ‘kapan Chelsea mendaftarkan diri?’ Dia lalu mengangkat bahu ‘tuh anak
kan memang suka gitu’ yakinnya pada dirinya sendiri.
***
Difa terlihat
tergesa-gesa dengan beberapa kaleng
minuman dan snack. Dia terus merutuki orang yang telah membuatnya menjadi begini. Tanpa disadari seseorang dengan
tergesa-gesa –yang pasti tidak fokus melihat ke depan- menabraknya.
“Sorry “ katanya singkat sambil sambil memungut beberapa
snack dan minuman yang jatuh .
Difa terdiam beberapa saat. Dia tidak sempat menggumamkan
kata terima kasih pada orang itu. Ia juga sedikit kecewa karna tidak dapat
melihat wajahnya. Namun, ia tadi melihat nametag gadis itu.
‘Palmetha’ gumamnya dalam hati.
Dalam hati Difa tersenyum mood nya sudah sedikit membaik.
Setidaknya langkah menjadi lebih ringan. Dalam hati
lagi-lagi dia berharap agar bertemu segera dengan gadis itu.
***
“ Chindai “
Chindai menoleh, otaknya sudah memberikan pemberitahuan
berupa rekaman wajah dan suara orang yang memanggilnya. Sebenarnya dia berbalik
agar tahu ada perubahan apa yang terjadi pada suara sahabatnya itu.
“Kenapa Sha?” Chindai bertanya dengan mengangkat sebelah
alis, menangkap gelagat aneh pada wajah Marsha.
Marsha nyengir lalu dengan gelagat aneh menepuk-nepuk bahu
Chindai.
“Loe kenapa sih? Kesambet ya” Chindai bergidik.
“Gue ntar pulangnya ga bareng elo ya, ada urusan “ katanya
sambil menggaruk belakang kepala.
“Loe kutuan ya Sha?” Chindai pasang muka –sok- polosnya.
Marsha melempar buku di meja ke kepala Chindai lalu ngeloyor
pergi.
“Kan bener , dia itu kesambet” Chindai mulai berspekulasi.
***
Chindai mengemudi dengan kecepatan sedang, dilihatnya mobil
berwarna silver terparkir di pinggir jalan.
“kayak kenal deh”
Diparkirnya mobilnya tepat di depan mobil tadi. Terlihat
pemuda berkacamata dan berponi lempar tengah sibuk dengan mesin mobil itu.
“Hei..” Chindai bersuara pelan.
Anak laki-laki itu Nampak terkejut “Ngapain Ndai?” tanyanya
heran.
“Enggak, tadi lihat mobil lo mogok. Yah hitung-hitung balas
budi karna lo udah nolongin gue dari kak Bela tempo hari, kita pulang bareng aja.”
“Aduh… Ga usah Ndai, takut ngerepotin” katanya dengan
perasaan campur aduk.
“Gpp, kali Di. Sayang loh niat baik ditolak”
“Ok, terserah lo deh”
***
Chelsea melirik kamar Chindai yang tak sepenuhnya tertutup.
Dilihatnya Chindai sedang sibuk dengan kertas gambar dan pensil. Dia tahu
meskipun kakaknya itu tidak punya bakat menggambar tapi ia sangat suka pada
fenomena tata surya. Dia pernah melihat bingkai foto Chindai dimana Chindai dan
kedua orang tuanya tengah foto bersama dengan background foto bergambar tata
surya. Dibelakangnya tertulis ‘Chindai
Sirius seorang astronot hebat’.
“Chels.. ngapain kekamar kakak”
“Gpp kak, Cuma mau
tau aja yang pulang bareng kita tadi siapa?”
“Oh, namanya Aldi yang nyelametin kakak dari kak Bela tempo
hari”
“Emang gimana ceritanya sih, kakak bisa berurusan sama kak
Bela Bela itu?”
“Ga usah difikirin. Udah berlalu juga” kata Chindai sok bijak
“Ga usah sok bijak deh kak” Chelsea mulai judes
“Siapa juga sok bijak, kan emang dasarnya kakakmu ini bijak
nan kece”
“Kepedean huuuu..” Chelsea menyorakinya lalu mengambil
bantal dan dengan cepat menyerang Chindai.
“Wah, cari gara-gara nih” Chindai mengambil ancang-ancang
lalu bersiap melempar Chelsea dengan dua bantal. Chelsea berhasil menghindar
lalu dengan cepat meninggalkan kamar Chindai yang berantakan.
“Chelsea, kamu tunggu pembalasanku” kata Chindai yang
bersiap lari mengejar Chelsea.
***
Chelsea berjalan malas menuju loker dilihatnya kakak nya
juga sedang menuju ke arahnya.
“Ngapain kak?”
“kepo” jawab Chindai menjulurkan lidah. Kan lumayan hiburan
pagi-pagi buat Chelsea cemberut.
Chelsea cemberut, berjalan malas menuju loker lalu mengambil
baju olahraganya. Ditolehkannya kepalanya dilihatnya Chindai mengambil baju
olahraga.
‘Dasar. Bilang ngambil baju olahraga aja ga bisa’ omelnya
dalam hati.
***
“Aduh..” Chindai
memegang bahunya yang berbenturan dengan
bahu lain yang lebih keras.
“Sorry.. Gue buru-buru nih” Suara berat itu lebih dulu
meminta maaf.
“Gue minta maaf juga ya, gue juga buru-buru. Deluan ya” kata
Chindai ramah, memandang orang itu sebentar dan tersenyum tipis.
***
“Kak Chindai.. kak Chindai. Chelsea pingsan kak” Dinda
dengan tergopoh-gopoh memberitahu Chindai.
“Sekarang dimana Din?” tanyanya khawatir
“Di UKS kak”
“Ayo.. buruan Din. Chelsea kok bisa pingsan sih?”
“Tadi ga sengaja kena bola basket kak”
“Kakak masuk dulu ya, kamu masuk kelas aja. Biar kakak yang
jaga Chelsea”
Chindai masuk ke UKS dilihatnya adiknya itu masih pingsan.
“Eh, sorry ya. Gue tadi ga sengaja ngelempar bola itu”
“Santai aja lagi. Chelsea memang lemah kok. Makasih ya udah
mau bawa dia kesini, lo udah boleh ke kelas kok, gue aja yang jaga. Btw lo yang
tadi di koridor kan?”
“Hehe.. iya. Gue balik dulu ya, titip maaf buat adik lo”
Pemuda itu berjalan pelan sampai ke luar UKS.
Satu hal yang merasuki pikirannya gadis bernama ‘Sirius’ tadi masih membuatnya
bertanya-tanya. Dia harus tenang, semoga ini awal yang baik untuk bertemu
dengan ‘Sirius’ lain yang dicarinya. Dia harus siap, ini awal pertama ia
memasuki kelas baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar