☆Sirius ☆
Sinopsis :
Ketika tanpa
sengaja dia bertemu dengan seseorang penghubung pada masa lalunya. Ketika
seorang Rychindai Sirius Palmetha bertemu kembali pada ‘sirius’ yang membuat pertahananan nya runtuh. Membawa
sejuta serpihan luka, kenangan , kepedihan, kebahagiaan yang selama ini hampir
sama sekali tak berbekas diingatannya. Akankah chindai dan ‘sirius’ dapat dipersatukan oleh takdir atau malah
sebaliknya?
Sirius
Bagian 1 :
Senja mulai
menapak di kaki langit barat, warnanya yang merah oranye mempercantik hiasan
langit kali ini. Seakan melambaikan
salam pada penduduk bumi bahwa siang telah berlalu dan malam telah datang.
Seakan mengerti sapaan tadi, angin mulai bertiup dan membuat dedaunan seakan
melambaikan daunnya untuk membalas sapaan
hangat sang mentari.
Setelah berlalunya
sapaan tadi, bulan dan bintang pun tak ketinggalan memeriahkan pesona malam.
Dibalik jendela kamarnya gadis itu tersenyum “Good night “ ucapnya lalu
terlelap tidur.
***
Gadis manis
berambut sepunggung berjalan pelan menuruni
tangga, ia menoleh setelah mendengar sapaan hangat gadis berambut lebih
panjang darinya
“pagi kak Sirius, si bintang paling terang” sapa adiknya
–gadis berambut lebih panjang tadi- (sok) kalem.
“pagi juga kejora bawel” balas nya tak mau kalah.
Dan pagi ini
berlanjut dengan keributan kecil keduanya hingga Chindai berangkat.
***
Rychindai Sirius
Palmetha akrab disapa Chindai Sirius atau Chindai tampak berjalan santai
sesekali tersenyum pada teman-teman yang menyapanya.
“Chindai.. Chindai.. “ sebuah teriakan nyaring memenuhi
koridor sekolah membuatnya berhenti tanpa berbalik. Dia tahu siapa yang
memanggil .
“Ndai, lo tau ga buku catatan yang sering gue tulis di
kelas?” Dia bertanya pada chindai dengan wajah memelas
Chindai tampak berpikir lalu kemudian menggeleng “ Emang
kenapa?”
“Disitu ada beberapa coretan penting tentang kak Rafli “ gadis itu tampak sedih.
“Coba deh cari sekali lagi, lo kan ceroboh. Hasil ulangan
anak-anak aja bisa sampai kolong tempat tidur” Chindai berkata sambil melirik
pergelangan tangannya.
Gadis itu tampak berpikir “Nanti aja mikirnya, kita udah
telat nih” Chindai kemudian menarik tangan marsha -gadis tadi-
dan kemudian beranjak pergi.
Tok.. tok.. tok.. Sura ketukan pintu membuyarkan fokus
seluruh anggota.
“Maaf kak, kami terlambat” salah satu dari mereka berbicara.
Setelah dipersilahkan masuk mereka kemudian duduk di tempat yang disediakan.
Kursi untuk anggota eskul musik dan anggota eskul karate putri.
***
Chindai mempercepat langkah kakinya menuju rumah, setelah
selesai rapat anggota osis dan berakhir dengan dijemputnya marsha karena kakak
pertamanya –Kak Iel- yang baru pulang dari Amerika berhubung sedang liburan.
Chindai harus pergi ke toko buku sendiri dan akhirnya harus jalan kaki dengan
hujan yang hampir turun.
***
“Hhhh…” Chindai
menghempaskan tubuhnya ke kasur, lelah menyelimutinya. Ia harus lari secepat mungkin untuk
menghindari hujan yang semakin deras.
Bajunya basah, dia harus segera mandi tampaknya.
***
Chindai mematut bayangannya di cermin, dia tersenyum. Ikatan
rambutnya terlihat rapi dan indah dengan pita biru disana.
Handphonenya bergetar
‘Ndai, gue berangkat deluan yah. Hari ini ga usah jemput, udah diaterin
kak Iel nih’ pesan itu tertulis disana dengan nama Marsha sebagai pengirimnya
Chindai pamit, lalu mengambil sepedanya di bagasi.
***
“Nah, ini adalah laboratorium kimia, yang disana
laboratorium biologi” Chindai mulai menjelaskan letak ruangan-ruangan yang
terdapat disekolah ini.
Setelah selesai menjelaskan ruangan ruangan di lantai satu,
adik-adik gugus kemudian dituntun untuk kembali ke kelas dan membuat denah
lantai satu sesuai penjelasan kakak gugusnya tadi.
Saat adik-adik kelas sedang asyik membuat denah dan sesekali
bertanya pada kakak gugus apabila dari antara mereka ada yang kurang mengerti.
“Kak Shilla, hoby kakak apa sih?” anak laki-laki yang duduk
di baris pertama kursi ke tiga dekat jendela bertanya, sontak saja semua murid
disana termasuk Chindai, Marsha dan Angel –kakak kelas yang sebaya dengan Shilla- juga ikut menoleh.
“Main musik pastinya, kakak kan ketua eskul musik “ Shilla
tersenyum
“Kakak bisa bawa alat musik apa aja?” yang lainnya mulai
ikut nimbrung
“Gitar, piano masih banyak lagi kayaknya “
“Paling suka main apa?”
“Gitar dong”
“Gitarin hati aku bisa ga kak”
“Mana bisa. Gimana caranya coba” Shilla tampak tertawa
diikuti seruan ciee seluruh kelas.
***
Chindai masih sibuk berkutat dengan barang bawaan yang akan
dibawanya. Ini hari kedua MOS, biasanya
akan diadakan demo untuk berbagai eskul.
Berhubung Chindai anggota eskul musik, ia harus membawa gitar sebagai
alat musik yang akan dibawakannya saat demo nanti. Ia mengamati pantulan
dirinya di cermin, dengan balutan jas khusus eskulnya dia tampak sangat
menawan.
“Ma, Chindai berangkat ya” Chindai berpamitan dengan gitar di tangan kiri.
“Kamu yakin bawa sepeda ?” Mamanya tampak khawatir
“Enggak kok, Chindai bawa mobil bareng sama Chelsea. Dah
Mama, kita berangkat ya “
“Hati-hati sayang, jangan ngebut”
Chindai mengangguk diikuti Chelsea dibelakangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar