Minggu, 08 Maret 2015

Sirius



Sirius
Sinopsis :

Ketika tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang penghubung pada masa lalunya. Ketika seorang Rychindai Sirius Palmetha bertemu kembali pada ‘sirius’  yang membuat pertahananan nya runtuh. Membawa sejuta serpihan luka, kenangan , kepedihan, kebahagiaan yang selama ini hampir sama sekali tak berbekas diingatannya. Akankah chindai dan ‘sirius’  dapat dipersatukan oleh takdir atau malah sebaliknya?


Sirius
Bagian 1 :
 
    Senja mulai menapak di kaki langit barat, warnanya yang merah oranye mempercantik hiasan langit kali ini. Seakan  melambaikan salam pada penduduk bumi bahwa siang telah berlalu dan malam telah datang. Seakan mengerti sapaan tadi, angin mulai bertiup dan membuat dedaunan seakan melambaikan  daunnya untuk membalas sapaan hangat sang mentari.
   Setelah berlalunya sapaan tadi, bulan dan bintang pun tak ketinggalan memeriahkan pesona malam. Dibalik jendela kamarnya gadis itu tersenyum “Good night “ ucapnya lalu terlelap tidur.
***
    Gadis manis berambut sepunggung berjalan pelan menuruni  tangga, ia menoleh setelah mendengar sapaan hangat gadis berambut lebih panjang darinya
“pagi kak Sirius, si bintang paling terang” sapa adiknya –gadis berambut lebih panjang tadi- (sok) kalem.
“pagi juga kejora bawel” balas nya tak mau kalah.
 Dan pagi ini berlanjut dengan keributan kecil keduanya hingga Chindai berangkat.
***
   Rychindai Sirius Palmetha akrab disapa Chindai Sirius atau Chindai tampak berjalan santai sesekali tersenyum pada teman-teman yang menyapanya.
“Chindai.. Chindai.. “ sebuah teriakan nyaring memenuhi koridor sekolah membuatnya berhenti tanpa berbalik. Dia tahu siapa yang memanggil .
“Ndai, lo tau ga buku catatan yang sering gue tulis di kelas?” Dia bertanya pada chindai dengan wajah memelas
Chindai tampak berpikir lalu kemudian menggeleng “ Emang kenapa?”
“Disitu ada beberapa coretan penting  tentang kak Rafli “ gadis itu tampak sedih.
“Coba deh cari sekali lagi, lo kan ceroboh. Hasil ulangan anak-anak aja bisa sampai kolong tempat tidur” Chindai berkata sambil melirik pergelangan tangannya.
Gadis itu tampak berpikir “Nanti aja mikirnya, kita udah telat nih” Chindai kemudian menarik tangan marsha  -gadis tadi-  dan kemudian beranjak pergi.
Tok.. tok.. tok.. Sura ketukan pintu membuyarkan fokus seluruh anggota.
“Maaf kak, kami terlambat” salah satu dari mereka berbicara. Setelah dipersilahkan masuk mereka kemudian duduk di tempat yang disediakan. Kursi untuk anggota eskul musik dan anggota eskul karate putri.
***
Chindai mempercepat langkah kakinya menuju rumah, setelah selesai rapat anggota osis dan berakhir dengan dijemputnya marsha karena kakak pertamanya –Kak Iel- yang baru pulang dari Amerika berhubung sedang liburan. Chindai harus pergi ke toko buku sendiri dan akhirnya harus jalan kaki dengan hujan yang hampir turun.
***
“Hhhh…”  Chindai menghempaskan tubuhnya ke kasur, lelah menyelimutinya.  Ia harus lari secepat mungkin untuk menghindari hujan  yang semakin deras. Bajunya basah, dia harus segera mandi tampaknya.
***
Chindai mematut bayangannya di cermin, dia tersenyum. Ikatan rambutnya terlihat rapi dan indah dengan pita biru disana.
Handphonenya bergetar  ‘Ndai, gue berangkat deluan yah. Hari ini ga usah jemput, udah diaterin kak Iel nih’ pesan itu tertulis disana dengan nama Marsha sebagai pengirimnya
Chindai pamit, lalu mengambil sepedanya di bagasi.
***
“Nah, ini adalah laboratorium kimia, yang disana laboratorium biologi” Chindai mulai menjelaskan letak ruangan-ruangan yang terdapat disekolah ini.
 Setelah selesai menjelaskan ruangan ruangan di lantai satu, adik-adik gugus kemudian dituntun untuk kembali ke kelas dan membuat denah lantai satu sesuai penjelasan kakak gugusnya tadi.
Saat adik-adik kelas sedang asyik membuat denah dan sesekali bertanya pada kakak gugus apabila dari antara mereka ada yang kurang mengerti.
“Kak Shilla, hoby kakak apa sih?” anak laki-laki yang duduk di baris pertama kursi ke tiga dekat jendela bertanya, sontak saja semua murid disana termasuk Chindai, Marsha dan Angel –kakak kelas  yang sebaya dengan Shilla- juga ikut menoleh.
“Main musik pastinya, kakak kan ketua eskul musik “ Shilla tersenyum
“Kakak bisa bawa alat musik apa aja?” yang lainnya mulai ikut nimbrung
“Gitar, piano masih banyak lagi kayaknya “
“Paling suka main apa?”
“Gitar dong”
“Gitarin hati aku bisa ga kak”
“Mana bisa. Gimana caranya coba” Shilla tampak tertawa diikuti seruan ciee seluruh kelas.
***
Chindai masih sibuk berkutat dengan barang bawaan yang akan dibawanya. Ini hari kedua MOS, biasanya  akan diadakan demo untuk berbagai eskul.  Berhubung Chindai anggota eskul musik, ia harus membawa gitar sebagai alat musik yang akan dibawakannya saat demo nanti. Ia mengamati pantulan dirinya di cermin, dengan balutan jas khusus eskulnya dia tampak sangat menawan.
“Ma, Chindai berangkat ya” Chindai berpamitan  dengan gitar di tangan kiri.
“Kamu yakin bawa sepeda ?” Mamanya tampak khawatir
“Enggak kok, Chindai bawa mobil bareng sama Chelsea. Dah Mama, kita berangkat ya “
“Hati-hati sayang, jangan ngebut”
Chindai mengangguk diikuti Chelsea dibelakangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar