Minggu, 08 Maret 2015

Sirius ( part 2 )



SIRIUS (PART 2)
     Chindai menghela napas lelah, ini hari pertama masuk sekolah setelah 3 hari menjadi kakak gugus sewaktu MOS. Chindai menatap beberapa kertas yang ada di tangannya, ini berisi nama murid-murid kelas 10 yang mendaftar sewaktu demo hari kedua. Ia menyipit menyadari satu nama yang tidak asing Fychelsea Kejora Palmetha. Chindai mulai berpikir ‘kapan Chelsea mendaftarkan diri?’ Dia lalu mengangkat bahu ‘tuh anak kan memang suka gitu’ yakinnya pada dirinya sendiri.
***
     Difa terlihat tergesa-gesa dengan beberapa  kaleng minuman dan snack. Dia terus merutuki orang yang telah membuatnya menjadi  begini. Tanpa disadari seseorang dengan tergesa-gesa –yang pasti tidak fokus melihat ke depan- menabraknya.
“Sorry “ katanya singkat sambil sambil memungut beberapa snack dan minuman yang jatuh .
Difa terdiam beberapa saat. Dia tidak sempat menggumamkan kata terima kasih pada orang itu. Ia juga sedikit kecewa karna tidak dapat melihat wajahnya. Namun, ia tadi melihat nametag gadis itu.
‘Palmetha’ gumamnya dalam hati.
Dalam hati Difa tersenyum mood nya sudah sedikit membaik.
Setidaknya langkah menjadi lebih ringan. Dalam hati lagi-lagi dia berharap agar bertemu segera dengan gadis itu.
***

      “ Chindai “
Chindai menoleh, otaknya sudah memberikan pemberitahuan berupa rekaman wajah dan suara orang yang memanggilnya. Sebenarnya dia berbalik agar tahu ada perubahan apa yang terjadi pada suara sahabatnya itu.
“Kenapa Sha?” Chindai bertanya dengan mengangkat sebelah alis, menangkap gelagat aneh pada wajah Marsha.
Marsha nyengir lalu dengan gelagat aneh menepuk-nepuk bahu Chindai.
“Loe kenapa sih? Kesambet ya” Chindai bergidik.
“Gue ntar pulangnya ga bareng elo ya, ada urusan “ katanya sambil menggaruk belakang kepala.
“Loe kutuan ya Sha?” Chindai pasang muka –sok- polosnya.
Marsha melempar buku di meja ke kepala Chindai lalu ngeloyor pergi.
“Kan bener , dia itu kesambet” Chindai mulai berspekulasi.
***
Chindai mengemudi dengan kecepatan sedang, dilihatnya mobil berwarna silver terparkir di pinggir jalan.
“kayak kenal deh”
Diparkirnya mobilnya tepat di depan mobil tadi. Terlihat pemuda berkacamata dan berponi lempar tengah sibuk dengan mesin mobil itu.
“Hei..” Chindai bersuara pelan.
Anak laki-laki itu Nampak terkejut “Ngapain Ndai?” tanyanya heran.
“Enggak, tadi lihat mobil lo mogok. Yah hitung-hitung balas budi karna lo udah nolongin gue dari kak  Bela tempo hari, kita pulang bareng aja.”
“Aduh… Ga usah Ndai, takut ngerepotin” katanya dengan perasaan campur aduk.
“Gpp, kali Di. Sayang loh niat baik ditolak”
“Ok, terserah lo deh”
***
Chelsea melirik kamar Chindai yang tak sepenuhnya tertutup. Dilihatnya Chindai sedang sibuk dengan kertas gambar dan pensil. Dia tahu meskipun kakaknya itu tidak punya bakat menggambar tapi ia sangat suka pada fenomena tata surya. Dia pernah melihat bingkai foto Chindai dimana Chindai dan kedua orang tuanya tengah foto bersama dengan background foto bergambar tata surya. Dibelakangnya tertulis  ‘Chindai Sirius seorang astronot hebat’.
“Chels.. ngapain kekamar kakak”
“Gpp kak, Cuma mau  tau aja yang pulang bareng kita tadi siapa?”
“Oh, namanya Aldi yang nyelametin kakak dari kak Bela tempo hari”
“Emang gimana ceritanya sih, kakak bisa berurusan sama kak Bela Bela itu?”
“Ga usah difikirin. Udah berlalu juga” kata Chindai sok bijak
“Ga usah sok bijak deh kak” Chelsea mulai judes
“Siapa juga sok bijak, kan emang dasarnya kakakmu ini bijak nan kece”
“Kepedean huuuu..” Chelsea menyorakinya lalu mengambil bantal dan dengan cepat menyerang Chindai.
“Wah, cari gara-gara nih” Chindai mengambil ancang-ancang lalu bersiap melempar Chelsea dengan dua bantal. Chelsea berhasil menghindar lalu dengan cepat meninggalkan kamar Chindai yang berantakan.
“Chelsea, kamu tunggu pembalasanku” kata Chindai yang bersiap lari mengejar Chelsea.
***
Chelsea berjalan malas menuju loker dilihatnya kakak nya juga sedang menuju ke arahnya.
“Ngapain kak?”
“kepo” jawab Chindai menjulurkan lidah. Kan lumayan hiburan pagi-pagi buat Chelsea cemberut.
Chelsea cemberut, berjalan malas menuju loker lalu mengambil baju olahraganya. Ditolehkannya kepalanya dilihatnya Chindai mengambil baju olahraga.
‘Dasar. Bilang ngambil baju olahraga aja ga bisa’ omelnya dalam hati.
***
“Aduh..”  Chindai memegang bahunya  yang berbenturan dengan bahu lain yang lebih keras.
“Sorry.. Gue buru-buru nih” Suara berat itu lebih dulu meminta maaf.
“Gue minta maaf juga ya, gue juga buru-buru. Deluan ya” kata Chindai ramah, memandang orang itu sebentar dan tersenyum tipis.
***
“Kak Chindai.. kak Chindai. Chelsea pingsan kak” Dinda dengan tergopoh-gopoh memberitahu Chindai.
“Sekarang dimana Din?” tanyanya khawatir
“Di UKS kak”
“Ayo.. buruan Din. Chelsea kok bisa pingsan sih?”
“Tadi ga sengaja kena bola basket kak”
“Kakak masuk dulu ya, kamu masuk kelas aja. Biar kakak yang jaga Chelsea”
Chindai masuk ke UKS dilihatnya adiknya itu masih pingsan.
“Eh, sorry ya. Gue tadi ga sengaja ngelempar bola itu”
“Santai aja lagi. Chelsea memang lemah kok. Makasih ya udah mau bawa dia kesini, lo udah boleh ke kelas kok, gue aja yang jaga. Btw lo yang tadi di koridor kan?”
“Hehe.. iya. Gue balik dulu ya, titip maaf buat adik lo”
Pemuda itu berjalan pelan sampai ke luar UKS. Satu hal yang merasuki pikirannya gadis bernama ‘Sirius’ tadi masih membuatnya bertanya-tanya. Dia harus tenang, semoga ini awal yang baik untuk bertemu dengan ‘Sirius’ lain yang dicarinya. Dia harus siap, ini awal pertama ia memasuki kelas baru.

Sirius



Sirius
Sinopsis :

Ketika tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang penghubung pada masa lalunya. Ketika seorang Rychindai Sirius Palmetha bertemu kembali pada ‘sirius’  yang membuat pertahananan nya runtuh. Membawa sejuta serpihan luka, kenangan , kepedihan, kebahagiaan yang selama ini hampir sama sekali tak berbekas diingatannya. Akankah chindai dan ‘sirius’  dapat dipersatukan oleh takdir atau malah sebaliknya?


Sirius
Bagian 1 :
 
    Senja mulai menapak di kaki langit barat, warnanya yang merah oranye mempercantik hiasan langit kali ini. Seakan  melambaikan salam pada penduduk bumi bahwa siang telah berlalu dan malam telah datang. Seakan mengerti sapaan tadi, angin mulai bertiup dan membuat dedaunan seakan melambaikan  daunnya untuk membalas sapaan hangat sang mentari.
   Setelah berlalunya sapaan tadi, bulan dan bintang pun tak ketinggalan memeriahkan pesona malam. Dibalik jendela kamarnya gadis itu tersenyum “Good night “ ucapnya lalu terlelap tidur.
***
    Gadis manis berambut sepunggung berjalan pelan menuruni  tangga, ia menoleh setelah mendengar sapaan hangat gadis berambut lebih panjang darinya
“pagi kak Sirius, si bintang paling terang” sapa adiknya –gadis berambut lebih panjang tadi- (sok) kalem.
“pagi juga kejora bawel” balas nya tak mau kalah.
 Dan pagi ini berlanjut dengan keributan kecil keduanya hingga Chindai berangkat.
***
   Rychindai Sirius Palmetha akrab disapa Chindai Sirius atau Chindai tampak berjalan santai sesekali tersenyum pada teman-teman yang menyapanya.
“Chindai.. Chindai.. “ sebuah teriakan nyaring memenuhi koridor sekolah membuatnya berhenti tanpa berbalik. Dia tahu siapa yang memanggil .
“Ndai, lo tau ga buku catatan yang sering gue tulis di kelas?” Dia bertanya pada chindai dengan wajah memelas
Chindai tampak berpikir lalu kemudian menggeleng “ Emang kenapa?”
“Disitu ada beberapa coretan penting  tentang kak Rafli “ gadis itu tampak sedih.
“Coba deh cari sekali lagi, lo kan ceroboh. Hasil ulangan anak-anak aja bisa sampai kolong tempat tidur” Chindai berkata sambil melirik pergelangan tangannya.
Gadis itu tampak berpikir “Nanti aja mikirnya, kita udah telat nih” Chindai kemudian menarik tangan marsha  -gadis tadi-  dan kemudian beranjak pergi.
Tok.. tok.. tok.. Sura ketukan pintu membuyarkan fokus seluruh anggota.
“Maaf kak, kami terlambat” salah satu dari mereka berbicara. Setelah dipersilahkan masuk mereka kemudian duduk di tempat yang disediakan. Kursi untuk anggota eskul musik dan anggota eskul karate putri.
***
Chindai mempercepat langkah kakinya menuju rumah, setelah selesai rapat anggota osis dan berakhir dengan dijemputnya marsha karena kakak pertamanya –Kak Iel- yang baru pulang dari Amerika berhubung sedang liburan. Chindai harus pergi ke toko buku sendiri dan akhirnya harus jalan kaki dengan hujan yang hampir turun.
***
“Hhhh…”  Chindai menghempaskan tubuhnya ke kasur, lelah menyelimutinya.  Ia harus lari secepat mungkin untuk menghindari hujan  yang semakin deras. Bajunya basah, dia harus segera mandi tampaknya.
***
Chindai mematut bayangannya di cermin, dia tersenyum. Ikatan rambutnya terlihat rapi dan indah dengan pita biru disana.
Handphonenya bergetar  ‘Ndai, gue berangkat deluan yah. Hari ini ga usah jemput, udah diaterin kak Iel nih’ pesan itu tertulis disana dengan nama Marsha sebagai pengirimnya
Chindai pamit, lalu mengambil sepedanya di bagasi.
***
“Nah, ini adalah laboratorium kimia, yang disana laboratorium biologi” Chindai mulai menjelaskan letak ruangan-ruangan yang terdapat disekolah ini.
 Setelah selesai menjelaskan ruangan ruangan di lantai satu, adik-adik gugus kemudian dituntun untuk kembali ke kelas dan membuat denah lantai satu sesuai penjelasan kakak gugusnya tadi.
Saat adik-adik kelas sedang asyik membuat denah dan sesekali bertanya pada kakak gugus apabila dari antara mereka ada yang kurang mengerti.
“Kak Shilla, hoby kakak apa sih?” anak laki-laki yang duduk di baris pertama kursi ke tiga dekat jendela bertanya, sontak saja semua murid disana termasuk Chindai, Marsha dan Angel –kakak kelas  yang sebaya dengan Shilla- juga ikut menoleh.
“Main musik pastinya, kakak kan ketua eskul musik “ Shilla tersenyum
“Kakak bisa bawa alat musik apa aja?” yang lainnya mulai ikut nimbrung
“Gitar, piano masih banyak lagi kayaknya “
“Paling suka main apa?”
“Gitar dong”
“Gitarin hati aku bisa ga kak”
“Mana bisa. Gimana caranya coba” Shilla tampak tertawa diikuti seruan ciee seluruh kelas.
***
Chindai masih sibuk berkutat dengan barang bawaan yang akan dibawanya. Ini hari kedua MOS, biasanya  akan diadakan demo untuk berbagai eskul.  Berhubung Chindai anggota eskul musik, ia harus membawa gitar sebagai alat musik yang akan dibawakannya saat demo nanti. Ia mengamati pantulan dirinya di cermin, dengan balutan jas khusus eskulnya dia tampak sangat menawan.
“Ma, Chindai berangkat ya” Chindai berpamitan  dengan gitar di tangan kiri.
“Kamu yakin bawa sepeda ?” Mamanya tampak khawatir
“Enggak kok, Chindai bawa mobil bareng sama Chelsea. Dah Mama, kita berangkat ya “
“Hati-hati sayang, jangan ngebut”
Chindai mengangguk diikuti Chelsea dibelakangnya.